Hindari Sisi Negatif, Siswa Harus Jaga Keamanan Akun Medsos di Ruang Digital

Read Time:1 Minute, 48 Second

POLEWALI MANDAR – Penggunaan media sosial dengan pilihan platform berbeda membuat ruang digital ramai dan riuh. Jutaan pengguna berinteraksi satu sama lain di Facebook, Instagram, X dan Tik Tok yang sedang tren.

Ada banyak aspek positif dari pencerahan dan kecerdasan timbal balik ketika menggunakan media sosial. Namun beberapa diantaranya memiliki risiko negatif. Siswa hendaknya berhenti dan menjauh ketika bersekolah.

“Ingat, ada hukum menabur dan menuai. Kalau menabur atau membagi itu baik, maka panen pun baik. Sebaliknya, jangan senang mengolok-olok atau bahkan melecehkan secara kejam ciri fisik teman sekolahmu. Apakah teman Anda akan mengalami teror psikologis, tetapi Anda bisa ditangkap berdasarkan Pasal 27 Pasal 3 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. “Ancamannya serius,” kata dosen Universitas Permadinah, Jakarta, dalam seminar online tentang literasi digital di Septa Dinata Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, Selasa (28/5/2024)

Webinar Literasi Digital Bidang Pendidikan Negeri Polman diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat di Kabupaten Polewali Mandar (Polman).

Septa Dinata mengatakan, tindakan bullying yang dilakukan temannya bisa menjadi masalah serius jika membahayakan keselamatan dan takut ke sekolah. “Jadi cerdaslah dalam menggunakan akun media sosial untuk bersosialisasi di ruang digital,” kata Septa dalam webinar yang diikuti siswa dan guru dari berbagai sekolah yang mengadakan pesta nonton bareng (Nubar) di sekolahnya.

Pullman Regency mengundang puluhan sekolah menengah atas untuk mengikuti diskusi virtual bertajuk “Keamanan Digital 101: Dasar-dasar Keamanan Akun Media Sosial”. Diantaranya SMAN 1 Polewali, SMAN 2 Pasangkayu, SMAN 1 Sarjo, SMAN 2 Kalluku, SMAN 1 Majene, SMAN 1 Mamuju, SMAN 2 Sesena Padang, SMAN 1 Sendana, SMAN1 Tamerodo dan SMAN Tikke Rata.

Septa menyarankan, ketika membaca berita di media sosial, siswa dapat melatih kebiasaan mengecek sumber lain sebelum mempercayai apa yang diterimanya.

Septa mencontohkan, akhir-akhir ini kita sedang ramai dibicarakan DeepFake, sebuah aplikasi dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu membuat video yang meniru wajah dan suara asli seseorang.

“Dia bisa jadi tokoh atau siapa saja. Namun, biasanya berakhir dengan ancaman krisis keluarga atau permintaan uang. Terkait hal ini, cek dulu dengan menelepon kerabat atau pihak asli yang ada di video tersebut. Jangan percaya begitu saja. itu, gantilah. “Biasakan cek dan cek lagi,” kata Septa.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Produsen Sepatu Bata Tutup Pabrik di Purwakarta, Begini Kinerja Keuangannya
Next post Utang Luar Negeri Rusia Menyusut Hampir 20%, Kini Sentuh Rp4.977 Triliun