Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama di Indonesia Siap Beroperasi April 2024

Read Time:3 Minute, 39 Second

dianrakyat.co.id, Jakarta – Menteri Investasi/Ketua Badan Pengelola Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia mengumumkan PT Hyundai LG Indonesia (HLI) akan memulai pabrik aki mobil pertama berkapasitas 10 Giga Watt (GW). . Produksi pada bulan April 2024.

Pabrik baterai kendaraan listrik berkapasitas 10 GW dan pabrik Giga Watt kedua sedang dibangun. Saat ini katoda dan smelter sedang dikerjakan tahun ini. 

“Kami laporkan kondisi aki mobil listrik, Mei nanti pabrik 10 gigawatt pertama dibuka, April sudah mulai bekerja,” kata Bahlil dalam jumpa pers, Senin (18/3/2024) usai investasi. . 

Periode ini menandai Indonesia sebagai produsen aki kendaraan pertama di Asia Tenggara. Pada tahap pertama, PT Hyundai LG Indonesia (HLI) memiliki investasi sebesar 1,1 miliar dollar AS dan memiliki kapasitas produksi 10 GW dengan 32,6 juta sel baterai yang mampu memproduksi sekitar 150.000 kendaraan listrik.

Bahlil menambahkan, dengan perluasan PT Vale Indonesia Tbk, BKPM berharap dapat mengembangkan ekosistem baterai skala besar dengan berinvestasi di Vale bersama dengan investasi lainnya.  Pemerintah telah merevisi kebijakan TKDN kendaraan listrik

Sebelumnya, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023 (Perpres) sebagai perubahan atas Perpres Nomor 55 Tahun 2019. Dalam keputusan tersebut, selain menyetujui pajak atas barang dan produk impor yakni CBU, juga diberikan pembebasan pajak kendaraan listrik. , disebutkan juga bahwa tujuan penggunaan TKDN untuk kendaraan listrik ditunda.

Pasal 8 Perpres Nomor 55 Tahun 2029 dan Perpres Nomor 79 Tahun 2023 sebagaimana telah diubah mengatur tentang TKDN dan jangka waktu pelaksanaannya.

Pemerintah memutuskan untuk menggunakan Tingkat Kelengkapan Dalam Negeri (TKDN) KBL kendaraan roda dua dan/atau roda tiga minimal 40 persen pada tahun 2019-2026, minimal 60 persen pada tahun 2027-2029, dan mulai tahun 2030 dan seterusnya. Setidaknya dari 80 persen.

 

 

 

Saat ini, penggunaan TKDN untuk KBL kendaraan roda empat ditetapkan, yakni minimal 35 persen pada 2019-2021, minimal 40 persen pada 2022-2026, minimal 60 persen pada 2027-2029, dan minimal persen pada 2030.80

“Diusulkan perubahan daftar komponen internal atau TKDN kendaraan listrik: periode 2020-2029 alat utama 50 persen, tahun 2030 naik menjadi 60 persen,” kata Direktur Industri Pengairan itu. Dalam jumpa pers update dan promosi insentif investasi KBLBB bagi pemangku kepentingan di Park Hyatt Jakarta pada Jumat (1/3/2024) di Kementerian Perhubungan dan Pertahanan, Hendro Martono.

Hendro menjelaskan sistem akuntansi TKDN untuk subsidi masih 10 persen. Saat ini, porsi kegiatan litbang TKDN akan dikurangi dari semula 20 persen menjadi 10 persen pada tahun 2030. Sebaliknya, pemerintah meningkatkan porsi kegiatan perakitan TKDN menjadi 20 persen dari sebelumnya 10 persen.

Hendro menjelaskan, penghitungan TKDN sebenarnya dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, yakni menciptakan pasar hingga tahun 2026 untuk menarik investasi baru melalui konferensi KLBB dalam proses keseluruhan (CKD).

Tahap kedua, industrialisasi pada tahun 2027-2029 memerlukan penggunaan baterai dan material untuk industri KBLBB dalam negeri.

Berikutnya, langkah ketiga melalui pendalaman industri pada tahun 2030 yang mengharuskan penggunaan elemen kunci yaitu baterai rumah tangga.

Oleh karena itu, pemerintah melakukan perubahan perhitungan TKDN pada sektor penarikan dan masuk agar industri KBLBB bisa mendapatkan nilai TKDN tertinggi pada sektor perakitan, ujarnya.

 

Melalui Kementerian Perindustrian, pemerintah mengumumkan akan memfasilitasi rencana VinFast untuk berinvestasi di Indonesia. Perusahaan mobil asal Vietnam ini akan menggelontorkan dana 1,2 miliar dollar AS untuk memproduksi mobil listrik di Indonesia.

“Kami sangat berterima kasih atas rencana investasi VinFast karena akan membantu pengembangan ekosistem kendaraan listrik Indonesia mengingat potensi Indonesia yang besar,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya, Senin (15/15/15). 1/2024).

Selain agenda Presiden RI Joko Widodo, Menteri Perindustrian Agus membuka pertemuan dengan perwakilan VinFast dalam kunjungan kerja ke Vietnam, yaitu Phạm Nhất Quân Anh, Wakil Presiden Divisi Produk VinFast, Presiden dan CEO VinFast Indonesia. Malaysia Trần Quốc Huy, Direktur GSM – Xanh SM Nguyễn Văn Thanh, dan asisten senior direktur hubungan internasional, Nguyễn Đức Thanh.

VinFast mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan lingkungan bisnis yang baik. Oleh karena itu, VinFast tertarik untuk menggalang dana untuk tahap pertama pembangunan pabrik senilai $200 juta yang akan dimulai pada tahun 2024.

Agus mengatakan “VinFast telah menemukan tempat yang tepat untuk mendirikan pabrik di Indonesia. Kebutuhan lahan sebesar 240 hektar.”

Total kapasitas produksi akan mencapai 50.000 unit per tahun dengan target mempekerjakan 1.000-3.000 pekerja. Pabrik ini akan mulai beroperasi pada tahun 2026.

Menurut Menperin, VinFast akan menggandeng perusahaan lokal untuk proses pembuatannya. Selain itu, pihaknya bermitra dengan perusahaan transportasi dan penyedia layanan teknologi untuk berekspansi ke taksi listrik.

“VinFast juga tertarik memproduksi bus listrik, bahkan ingin berinvestasi di IKN,” ujarnya.

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Dukung Timnas Putri Indonesia di Piala Asia U-17 2024, Erick Thohir: Perjalanan Masih Panjang
Next post PHRI Bali Sebut Hotel Berpotensi Sesuaikan Tarif Jika PPN 12 Persen