Waspadai 4 Faktor Risiko Batu Ginjal, Termasuk Kerap Kekurangan Cairan

Read Time:2 Minute, 4 Second

dianrakyat.co.id, Jakarta Batu ginjal adalah suatu kondisi dimana terjadi kristalisasi pada batu, kemudian terkompresi dan membesar hingga akhirnya terbawa oleh saluran kemih dan menyumbat saluran urin.

Menurut dokter spesialis bedah urologi dari RS EMC Sentul Bogor, Yacobus Prangbuwono, ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan seseorang mengalami batu ginjal.

Faktor risiko yang pertama adalah faktor keturunan atau keturunan.

“Kalau ada anggota keluarga yang mengidap batu ginjal, lebih berbahaya yang mengalaminya. Entah itu ayah, ibu, kakak, paman, atau sepupu,” kata Yacobus dalam Jangan Remehkan Batu Ginjal! Yuk hindari dan pelajari pengobatan EMC pada Senin 25 Maret 2024.

Faktor kedua adalah riwayat penyakit tertentu. Orang dengan hiperparatiroidisme, gangguan metabolisme, dan pasien obesitas dengan mobilitas terbatas memiliki risiko lebih tinggi terkena batu ginjal.

Konsumsi suplemen tertentu secara berlebihan

Faktor ketiga, mengonsumsi suplemen atau vitamin C lebih dari yang dibutuhkan tubuh, juga bisa menjadi penyebab munculnya batu ginjal.

“Contohnya konsumsi suplemen yang tinggi kalsium atau vitamin C, jadi kalau di dalam tubuh cukup, tapi mendapat tambahan dari luar, yang bikin kadarnya tinggi, maka kalau disaring oleh ginjal, bisa. membentuk batu,” kata dokter jebolan Universitas Airlangga Surabaya ini.

Oleh karena itu pasien dengan riwayat kekurangan cairan kronis seperti dehidrasi atau diare kronis juga memiliki risiko alami terkena batu ginjal.

Ya, kurang cairan atau kurang minum, ujarnya.

Gejala paling umum pada penderita batu ginjal adalah nyeri punggung. Meskipun saya mengubah posisi, rasa sakitnya tidak kunjung hilang.

“Pada posisi berbeda, nyeri di pinggang tidak berkurang. Baik duduk, berdiri, condong ke kanan atau kiri, gejalanya tidak berkurang,” kata Yacobus.

Sakit punggung bisa bermacam-macam. Ada yang merasakan nyeri otot bahkan nyeri hebat bahkan tidak tahu bagaimana rasanya, yang nomor dua setelah nyeri melahirkan, seperti dikatakan dokter spesialis bedah urologi Johan R Wibowo dari EMC Pulomas. Rumah Sakit, Jakarta.

“Sakitnya tidak mempengaruhi pergerakan, enak sekali,” kata Johan dalam kesempatan yang sama.

Selain sakit punggung, Yacobus dan Johan mengatakan gejala batu ginjal lain yang sering dikeluhkan pasien adalah: Buang air kecil berwarna merah atau disertai infeksi, penderita akan demam, mual dan muntah saat buang air kecil, sehingga batu pun pecah. bahwa mereka tidak dapat melakukannya.

Jika pasien memiliki keluhan dugaan batu ginjal, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan diagnosisnya. Pertama, kata Yacobus, mulailah dengan melakukan anamnesis.

“Dokter menggali riwayat pasien, sekaligus menanyakan keluhan yang terjadi,” jelasnya.

Kedua, dokter akan melakukan pemeriksaan laboratorium, termasuk darah dan urin.

Ketiga, akan dilanjutkan dengan USG untuk memeriksa adanya batu di saluran kemih. Pemeriksaan lain juga dapat dilakukan, seperti rontgen dan CT scan atau CT urologi ginjal atau saluran kemih.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Transport Network IP 400GE Kunci Mendukung Transformasi Digital di Indonesia
Next post Tak Ingin Merepotkan, Babe Cabita Sempat Larang Keluarga Gelar Tahlilan di Rumahnya